Rumah Minimalis, Harapan dan Impian
Posted by odlan on August 29, 2009
<a href=”http://blog.propertykita.com” mce_href=”http://blog.propertykita.com” ><img src=”http://propertykita.com/badge/badge2.jpg” mce_src=”http://propertykita.com/badge/badge2.jpg” alt=”PropertyKita.com Blogging Competition 09″ /></a>
Sebuah rumah mungil di atas bukit, interior kayu nan hangat, pohon buah-buahan di sana-sini, cericit burung yang menemaniku menyapu halaman di pagi hari, sungai kecil berbatu di belakang rumah yang riak airnya akan selalu membuat anak-anak saya tertawa riang dan pemandangan ke arah bukit hijau rimbun. Itu rumah yang selalu saya impikan.
Saya mendapatkan referensi tentang rumah impian saya itu dari kunjungan saya ke beberapa tempat. Di antaranya adalah beberapa resor dan tempat makan di atas bukit di ujung Utara kota saya atau rumah-rumah makan di tengah kota yang dikelilingi benteng beton setinggi 3 meter, di mana si pemilik menutupi keangkuhan beton-nya itu dengan kerimbunan pring kuning atau papirus. Tapi, tidak ada yang bisa menandingi sebuah pondok di kaki Gede-Pangrango yang bermerk “Pondok Kembara”. Bangunan kayu kokoh itu memiliki beranda yang menjorok ke arah sungai jernih berbatu dan berarus deras. Di seberang sungai itu pepohonan seolah tak terjamah tangan manusia; rimbun, hijau, bersenandung jika ditiup angin. Di sore hari, belasan lutung bergelayutan di antara ranting-rantingnya. Jika masuk ke pondok itu, berbaliklah setelah setengah kaki anda menjejak lantai utamanya, maka Anda akan disuguhi pemandangan hijau lainnya. Seonggok hutan, kalau boleh saya menyebutnya demikian.
Jadi, rumah impian saya adalah rumah di atas bukit dengan udara bersih segar dan hembusan anginnya nan menyejukkan jiwa, ada sungai kecil yang “bernyanyi” setiap saat, plus seonggok hutan!
Ternyata, konsep rumah impian saya juga diimpikan oleh sebagian banyak orang. Sebagian lainnya bahkan mewujudkannya! Mencipta sebidang “surga” milik mereka sendiri dengan secuil hutan di dalamnya.
Anda lihat saja jajaran rumah di tepi bukit, bukit mana pun di sekitar Jakarta dan Bandung. Lokasinya memungkinkan penghuninya mendapatkan pemandangan alam di bawahnya dan “payung” langit yang lebih luas dari rumah-rumah yang tergencet gedung di kota. Pagar tinggi menjulang, benteng beton, sungai kecil buatan dan secuil hutan buatan di dalamnya, hanya secuil, bukan seonggok. Saya tidak sedang melebih-lebihkan. Seonggok hutan, secuil, bahkan sejumput pun ada. Tepatnya, “diadakan” oleh kita yang mencintai sesuatu yang hijau, segar, menyejukkan.
Disadari atau tidak, kita merindukan hutan berada di dekat kita, amat dekat. Hutan seperti elemen wajib untuk sebuah surga tempat kita tinggal. Sehingga meski sejumput, kita ingin hutan itu ada. Ironisnya, kita memang menginginkan sejumput hutan di belakang rumah kita, artinya kita menyadari betapa berartinya sejumput hutan itu bagi rumah kita. Sementara hutan-hutan yang sebenarnya di kulit bumi ini tengah kita koyak-koyak atas nama segala yang berbau kemanusiaan. Kita sedang menghilangkan hutan! Menghilangkan perlengkapan wajib bumi ini sedikit demi sedikit! Sehingga yang tersisa dari rimba belantara itu hanya tinggal onggokan-onggokan hijau menyedihkan yang tidak lagi pantas disebut rimba.









